Perubahan Aturan Belok Kiri Jalan Terus, Pengendara Masih Bingung

15 Sep 2012

ad982f818c3af391dc1cd7e0c0e110a6_24-januari-2012-008Bandung (15/09) Walaupun aturan belok kiri pada persimpangan jalan dilarang langsung berbelok kiri sudah diberlakukan sejak tahun 2009, namun sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum memahami. Pada prakteknya masih banyak yang pengemudi yang belok kiri langsung ketika lampu alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) berwarna merah. Keadaan ini karena aturan belok kiri jalan terus beberapa kali telah mengalami perubahan.

Berdasarkan Undang Undang Nomor 14 Tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 pasal 59 ayat (3) dinyatakan bahwa pengemudi dapat langsung belok ke kiri pada setiap persimpangan jalan, kecuali ditentukan lain oleh rambu-rambu atau alat pemberi isyarat lalu lintas pengatur belok kiri’. Artinya, pada semua persimpangan yang dilengkapi lampu APILL, pengemudi secara otomatis boleh belok kiri walau lampu APILL warna merah menyala. Dengan catatan, jika di persimpangan tersebut tak dilengkapi lampu khusus pengatur arus lalu lintas bagi kendaraan yang akan berbelok ke kiri.

Terdapat dasar pertimbangan menerapkan aturan tersebut, yaitu sebagai salah satu upaya untuk mengurangi penumpukan kendaraan yang akan berbelok ke kiri. Aturan tersebut diharapkan dapat lebih memperlancar arus lalu lintas di persimpangan jalan. Sehingga diharapkan meningkatkan kapasitas persimpangan tersebut.

Di kemudian hari, penerapan aturan tersebut dirasakan malahan menimbulkan beberapa persoalan dan permasalahan. Di antaranya adalah menimbulkan kesulitan bagi pejalan kaki yang akan menyeberang di persimpangan tersebut. Budaya dan adab berlalu-lintas masyarakat Indonesia masih rendah, karena pada setiap persimpangan kendaraan diharapkan berhenti atau memperlambat kecepatan untuk melihat arus lalu lintas di sebelah kanan terlebih dahulu. Setelah dirasakan aman baru berbelok ke kiri.

Namun yang terjadi boro-boro memperlambat laju kendaraan, yang terjadi malah memacu dengan cepat agar tidak didahului kendaraan lainnya. Akibatnya pejalan kaki sulit untuk menyeberang di setiap persimpangan. Padahal pejalan kaki harus didahulukan.

Di samping itu kendaraan yang langsung berbelok kiri sering mengabaikan kendaraan dari arah lainnya yang mempunyai hak utama penggunaan jalan di persimpangan tersebut. Padahal kendaraan yang langsung berbelok kiri harus tetap mendahulukan kendaraan dari arah lainnya yang mendapatkan lampu hijau dan/atau kendaraan lainnya yang dari arah sebelah kanan.

Karena itulah, penerapan aturan itu berbelok kiri langsung justru dapat mengakibatkan kecelakaan lalu lintas yang terjadi di persimpangan jalan.

Berdasarkan pertimbangan itulah maka aturan belok kiri langsung diubah dalam Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan nomor 22 Tahun 2009 pasal 112 ayat (3). Ayat tersebut menyatakan bahwa pada persimpangan jalan yang dilengkapi alat pemberi isyarat lalu lintas, pengemudi kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan lain oleh rambu lalu lintas atau alat pemberi isyarat lalu lintas (APPILL).

d5dc765c4afa352dc5f5f7fd51ebe18f_belok-kiri-jalan-terus2e00c5c67a5f34305ec01a9c2d17332a_belok-kiri-ikuti-lampuPengemudi boleh berbelok kiri langsung, walau lampu APILL berwarna merah, jika ada rambu petunjuk berbunyi ‘Belok Kiri Boleh Langsung’ atau ‘Ke Kiri Jalan Terus’. Jika tidak ada rambu tersebut maka pengemudi wajib hukumnya berhenti jika lampu APILL menyala merah, walau akan berbelok ke kiri.

Dengan demikian rambu yang menyatakan ‘Ke Kiri Ikuti Lampu’ atau ‘Belok Kiri Ikuti Lampu’ tidak diperlukan lagi, karena otomatis berdasarkan aturan yang baru semua pengendara di persimpangan termasuk yang akan belok kiri wajib mengikuti lampu APILL.

Karena beberapa kali mengalami perubahan, maka masyarakat menjadi bingung.

Sayang sosialisasi perubahan terhadap aturan tentang aturan belok kiri ini kurang gencar sehingga pengemudi masih banyak yang melanggar karena ketidaktahuannya. Barangkali negara menganggap bahwa dengan sudah diundangkan di Lembaran Negara sudah cukup dan wajib hukumnya setiap warga negara untuk mengetahuinya.

Padahal ancaman terhadap pelanggaran aturan belok kiri ini sangat berat, yaitu denda uang sebesar maksimal Rp. 500.0000 atau pidana kurungan maksimal 2 bulan penjara. Ketentuan tersebut tertuang pada  Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 pasal 287 ayat (2) “Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang melanggar aturan perintah atau larangan yang dinyatakan dengan alat pemberi isyarat lalu lintas sebagaimana dimaksud dalam pasal 106 ayat (4) huruf c dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp.500.000.00 (lima ratus ribu rupiah)”.


TAGS belok kiri belok kiri jalan terus belok kiri ikuti lampu APILL


-

Author

Follow Me